Untuk mematikan perasaan pilu dalam rongga dadanya, ia menghentikan nafasnya beradu di udara. Untuk menyingkirkan lara dalam deru tangisnya, ia menyulut api dari sudut bibirnya. Dan untuk membunuh rasa bersalah kepada dirinya, ia menghujam kemanusiaannya.
Bisakah kita semua berakhir dengan indah?
Sayang, maaf aku menyerah. Aku kalah pada jutaan marah yang semakin hilang arah. Tidak bisa kusangsikan gejala kesakitan ini memang selalu berawal darimu dan bermuara padamu.
Sayang, maaf jika taruhanku kali ini tidak lagi akan melibatkan harapanku tentang kita. Aku sudah malu pada Tuhan sebab begitu banyak meminta. Lalu suatu waktu akupun menyadari, tak peduli seberapa keras do’aku, semuanya tak akan menjadi lebih baik.
Saat itu pula aku mengawali kasih untuk melepaskanmu pelan-pelan. Karena saat kuterjemahi bahasa Tuhan yang sukar ini, seolah Ia memintaku melepaskanmu karena aku menggenggammu terlalu erat. Kau— terlebih aku, sangat kesakitan.
Aku tidak mampu lagi menolong hatiku yang tengah durjana ini sebab kecewa padamu terlampau dalam. Aku tidak bisa lagi menjadi gadis kecil yang selalu menyenangkanmu dalam setiap percakapan. Aku kehilangan sosok diriku yang amat kau cintai. Ia jera untuk kembali.
Semuanya telah kuserahkan padaNya, termasuk dirimu. Sungguh aku tak dapat menyembuhkan luka ini sendirian. Setiap kali aku harus menatapmu, kali itu juga aku selalu teringat semua yang kau lakukan dengan sempurna. Sangat disayangkan bakat mahirmu kau gunakan untuk melukaiku.
Memang sudah benar saat itu kau tinggalkan aku saja dan pergi pada perempuan lain. Mengapa kau selalu saja kembali pada orang yang sudah berkali kau khianati? Apa yg ada dipikiranmu sesungguhnya?
Kurasa kau harus juga pahami, kapanpun aku juga bisa berhenti dan menutup hati. Menyerah karena sudah kepalang lelah. Sesekali, pikirkanlah perasaanku. Sesekali, selamilah aku dari hati.
Sesekali, aku ingin kau menjadi aku.
Sudah puluhan purnama, aku melewati bersamanya. Aku bertahan melawan segalanya sendirian. Menjadi biduk paling kokoh untuk melindunginya agar tetap aman. Bertarung melawan kebohongan-kebohongannya yang diam-diam sudah aku ketahui.
Mengaku telah mengorbankan diri untuk mengobatiku? Bagian mana yang kau obati? Mengapa hanya luka yang menyetubuhiku selalu bertambah? Seolah akulah pelaku utama sebab kau hancur lebur.
Mengaku telah mati-matian berjuang untukku? Benarkah untukku atau hanya untuk egomu? Aku disini yang kehilangan diri sampai lupa mencintai diri sendiri.
Tak pantas kau berkata begitu, lelaki.
Tak pantas kau mengaku luka adalah teman baikmu seolah kau yang paling banyak menerima. Seberapa banyakpun aku berkata tentang yg kau lakukan, kau tak akan pernah menyadarinya.
Sudahlah, dari awal kau memang hanya mencintai dirimu sendiri.
Tuhan, aku titip tuanku, ya?
Seberapa jauh kita melangkah rasanya ujung dari sebuah jalan ini belum juga kutemukan. Entah siapa yang salah, entah siapa yang sering kalah. Haruskah aku yang selalu mengalah? Pada keakuanmu yang tak pernah berhenti menemukan muaranya. Atau hanya aku yang terlalu optimis untuk jalan yang sebenarnya tak pernah ada ini?
Seberapa banyak sudah kau berjuang untukku, tuan? Adakah lelah kau rasa? Atau justru bahagia karena sempat atau mungkin masih memiliki yang lain? Sudahkah kau bahagia dengan merakit satu persatu kebohongan hanya untuk meyakinkanku bahwa kau cinta?
Entahlah tuan. Maafmu yang mana yang harusku percaya kini. Kau yang menumbuhkan cinta dengan susah payah untuk kau peluk, kau jua yang meluluhlantahkan bersamaannya ketiadaanmu beberapa waktu.
Sekuat hati kumainkan nadiku sendiri agar dapat bertahan untukmu saja, denganmu saja. Sekuat lara-laraku yang menangis tapi selalu kusembunyikan. Sekuat aku memainkan topeng bahagia agar kau pikir aku tak begitu terluka oleh semua egomu.
Tuhan selalu baik padaku, jika bukan, aku sudah lebih dulu mati daripada penyakitmu. Tidak ada lagi yang bisa kujaga sekuat tali keyakinanku. Runtuh semua, terimakasih berkatmu. Tak ada lagi alasan kumiliki untuk tetap bertahan seperti biasanya. Satu-satunya harapan terakhirku adalah Dia.
Tak ada lagi melainkan Dia yang bisa mempertahankan hatiku untukmu. Tuhan, kuserahkan hatiku padamu. Kunantikan jawabanMu di dalamnya. Tuhan, kutitip tuanku kepadaMu, ya? Kurharap Kau berkenan menggantikanku untuk membuatnya bahagia.
tidak ada satupun bekas luka di hatiku yang berasal dari orang yang tidak menyukaiku. itu semua justru berasal dari orang-orang yang mengatakan bahwa mereka “mencintaiku”.
berhenti menirukan aku. sungguh aku sangat mengasihani orang seperti dirimu.
Nankananta
16.59
07/09/2022
langsung saja ingin kutanyakan;
“apakah aku semurah itu hingga mudah bagi narakata yang keluar dari bibir manismu untuk menggilaiku?”
terserah bagi kau jika menganggapku gagak;
lugasku ini sungguh wajar dengan alasan yang masuk akal.
lalu bagaimana denganmu? semua memang terdengar manis namun sayang sama sekali tak ada harganya sejak kutahu semua kata cintamu kau agungkan bukan hanya untukku.
percayaku kau beli dengan janji, sayangku kau beli dengan kecup kepayang, setiaku kau beli dengan narasi dusta.
sungguhkah aku satu-satunya kecintaanmu yang teramat sangat? bukannya aku seorang si empunya hatimu? dan sungguh kau setengah mati meyakinkanku atas perasaanmu?
oh, bukan?
pantas saja, merekapun juga menelan kata-kata yang sama darimu.
ah, kini aku paling mencintai batang asap ini. memang asapnya terlihat sama untuk semua tapi rasa yang dilahirkannya hanya aku yang punya.
percuma kau usap sebut semua hal yang sama karena sudah lama bagiku mereka tidak ada harga.
“Semoga semogaku menjadi semogamu dan akhirnya menjadi semoga kita yang utuh. Semoga kita pun selesai tanpa kata usai.”
kan kujaga sisa daksa ini;
yang sebagian besar telah habis dimakan dosaku;
kugadaikan sebagai upah membayar luka-dukamu;
gugurkanlah hingga habis seluruh nyawaku.
pulangku habis dimakan rumah;
zainudin bersiap pantang menyerah.
aku bertanya kapan kau berhenti?
“aku berhenti kala aku mati.”.
kinipun tak ada jalan yang tak berduri;
pilihanku kebiri hati atau ditembak mati.
sungkanku tak ku elakkan lagi;
sampai hatimu kudapatkan kembali.
Kisah Dzainuddin merebut Nurani.